Valens Riyadi

Menguatkan Negeri: Kiprah di Dunia Digital, Edukasi, dan Kemanusiaan

English Version

Valens Riyadi adalah seorang engineer, pelaku bisnis, dan pegiat literasi digital yang aktif di berbagai inisiatif teknologi dan kemanusiaan. Selama lebih dari dua dekade, ia telah membangun ekosistem jaringan, memperkenalkan teknologi, melatih ribuan orang, hingga memperjuangkan keamanan dan kebebasan digital di Indonesia.

Awal Ketertarikan & Masa Pendidikan

Valens Riyadi adalah seorang engineer, pelaku bisnis, dan pegiat literasi digital yang aktif di berbagai inisiatif teknologi dan kemanusiaan. Selama lebih dari dua dekade, ia telah membangun ekosistem jaringan, memperkenalkan teknologi, melatih ribuan orang, hingga memperjuangkan keamanan dan kebebasan digital di Indonesia.

Valens lahir di Bali, dan menghabiskan masa sekolahnya hingga SMP di Denpasar. Sejak remaja, Valens Riyadi sudah lebih suka ngoprek komputer daripada sekadar main. Saat SMP, ia sudah lulus kelas programming BASICA—di masa komputer masih barang langka di rumah-rumah Indonesia. Di SMA Kolese De Britto, seiring dengan aktifitasnya di banyak kegiatan, ia tumbuh sebagai “anak lab”, rajin bereksperimen di ruang komputer bahkan di luar jam sekolah, membangun skill programming dan troubleshooting hardware/software, dan menumbuhkan rasa ingin tahu yang tanpa batas.

Saat kuliah arsitektur di Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Valens tetap “anak komputer”. Ia malah menguasai visual programming dan HTML terlibat dalam tim membuat sistem informasi universitas, rajin main BBS ke berbagai server, bahkan mulai membangun aplikasi dan website ketika internet baru mulai masuk ke Indonesia. Di tingkat akhir kuliah, Valens sudah bekerja remote sebagai programmer untuk perusahaan di Amerika—langkah besar yang membuktikan kemampuan manajemen waktu, adaptasi digital, dan visi jauh ke depan sebelum remote working jadi arus utama.

Karier Profesional & Ekosistem Digital

Lulus kuliah, Valens langsung terjun ke dunia profesional sebagai web developer di Jakarta. Ia menangani proyek nasional dan internasional, membangun jejaring, dan membuktikan bahwa skill anak Indonesia bisa bersaing global. Proyeknya? Nggak main-main: dari website perusahaan nasional, sampai platform internasional yang menembus batas benua.

Ternyata, batas geografis pun akhirnya ditembus juga. Setelah kenyang proyek di ibu kota, Valens berangkat ke Amerika dan bekerja dua tahun sebagai programmer. Di sanalah, selain makin lihai di dunia coding, dia mulai nyemplung belajar jaringan komputer—fondasi penting yang nanti jadi modal utama dalam perjalanan kariernya. Sekaligus juga mengenal budaya kerja global, dan mengasah visi inovasi digital.

Netfest 2025

Bersama Iwan, Riza, Debyo, dan Novan

Panggilan membangun negeri membuat Valens kembali ke Jogja, dan di sanalah bersama-sama dengan teman satu almamater de Britto : Riza Tantular, Iwan Santoso, Donny Verdian, dan Wicaksono Cipto, dengan dukungan Filipus Hunadi, mendirikan perusahaan yang saling menguatkan dan membentuk ekosistem digital modern di Indonesia.

  • Citraweb: penyedia hardware, pengembang sistem informasi, laboratorium inovasi, pusat pelatihan dan pengembangan SDM digital, serta edukasi teknologi jaringan untuk ribuan pelajar, guru, engineer, dan profesional.
  • Citranet: penyedia layanan internet yang memperluas akses digital untuk sekolah, kampus, UMKM, dan masyarakat umum di Jogja dan sekitarnya.
Ekosistem ini menjadi “lumbung talenta digital” dan penghubung masyarakat dengan dunia internet. Melalui Citraweb dan Citranet, Valens mendorong lahirnya generasi baru yang melek teknologi dan siap bersaing di kancah nasional maupun global.

Dalam perjalanannya, Citraweb tumbuh berkat kontribusi banyak tangan hebat. Ronal Rivandy dan Debyo Surya memberikan peran besar dalam membesarkannya, sementara Novan Chris dan Aditya Wardana pun pernah menjadi bagian penting dari perjalanan ini. Setiap jejak yang mereka tinggalkan menjadi bagian berharga dalam cerita Citraweb.

Dengan MikroTik Mengubah Peta Jaringan Nasional

Di awal 2000-an, ketika teknologi jaringan kelas enterprise masih menjadi barang mewah yang hanya bisa dijangkau segelintir pihak, Valens bersama Citranet dan Citraweb datang membawa MikroTik—sebuah solusi yang terjangkau, namun memiliki kekuatan yang mampu menandingi perangkat mahal. Tahun itu, 2001, nama MikroTik hampir tak dikenal, hanya hadir sebagai software tanpa perangkat keras.

Apa yang dimulai dari kebutuhan internal Citranet—mencari router dan limiter yang andal namun ramah biaya—berubah menjadi sebuah misi besar. Valens membangun ekosistemnya dari tanah kosong: mengadakan seminar, workshop, membentuk komunitas, dan melatih generasi demi generasi pegiat jaringan di seluruh penjuru negeri.

Netfest 2025

Bersama John Tully (CEO MikroTik) dan Arnis Riekstins (CTO MikroTik) - 2018

Dua dekade kemudian, hasilnya terukir jelas. MikroTik berdiri sebagai tulang punggung jaringan di sekolah, kampus, ISP lokal, UMKM, hingga instansi pemerintah. Sejak 2015 hingga 2025, RouterOS MikroTik menjadi sistem operasi yang paling banyak dipakai di berbagai Internet Exchange terbesar di Indonesia. Sebuah perjalanan yang membuktikan bahwa visi berani di awal 2000-an telah menjadi pilar penting infrastruktur digital di Indonesia.

Valens adalah Certified MikroTik Trainer pertama di Asia Pasifik. Dia bahkan sudah dipercaya MikroTik untuk mengajar sejak sebelum ada program trainer resmi. Ribuan engineer—mulai dari Indonesia, Asia, sampai Eropa—pernah duduk di kelasnya. Di sana diajarkan revolusi perangkat jaringan, bagaimana perangkat router dengan harga terjangkau bisa bersaing ke banyak perangkat merk terkenal. Valens menanamkan filosofi: teknologi itu harus membumi, bisa dipelajari siapa saja, dan harus berdampak nyata. Tidak peduli dari mana asalnya, tanpa gelar tinggi pun semua orang punya peluang jadi ahli jaringan kalau mau belajar.

Visi inklusif ini juga yang melahirkan Olimpiade Jaringan MikroTik, kompetisi antar SMK TKJ tingkat nasional yang digelar setiap tahun sejak 2016. Ajang ini bukan sekadar lomba, tapi kawah candradimuka yang membentuk ribuan siswa jadi engineer muda yang tangguh, sportif, dan siap bersaing di dunia nyata. Ini adalah tolok ukur bagi SMK di seluruh Indonesia, bagaimana kualitas pengajaran ilmu jaringan di sekolahnya, jika dibandingkan dengan sekolah lain dan tuntutan nyata kebutuhan industri. Tiap tahun tidak kurang 500 sekolah mengikuti lomba ini dengan penuh semangat. Dan tak sedikit alumni olimpiade yang sekarang jadi pionir perubahan di komunitasnya sendiri.

Dalam sejarah ekosistem MikroTik, MikroTik User Meeting (MUM) adalah medan besar tempat para pegiat jaringan dunia bertemu—puluhan kali setahun, di berbagai negara, sebelum pandemi menghentikan langkahnya. Di sana, ide-ide lahir, pengetahuan dipertukarkan, dan inovasi ditempa.

Dari sekian banyak wajah yang hadir, Valens melangkah bukan sekadar sebagai penonton. Perjalanannya dimulai di Praha, tahun 2006, saat ia berdiri di panggung MUM untuk membagikan kisah perjuangan memulihkan komunikasi di Aceh, dengan perangkat MikroTik sebagai senjata utamanya. Sejak itu, ia menjelajahi panggung demi panggung di berbagai belahan dunia, menjadi salah satu presenter yang namanya melekat kuat dalam sejarah MUM—ikon ketekunan dan dedikasi di dunia jaringan. Bahkan, dalam salah satu podcast resmi MikroTik, Valens secara khusus disebut sebagai MikroTik Legend.

Tidak hanya itu, dari sisi penyelenggaraan, MUM di Indonesia hampir selalu jadi yang terbesar. MUM Tahun 2018 di Yogyakarta mencetak rekor dihadiri lebih dari 3.500 peserta, menjadikannya pertemuan komunitas MikroTik terbesar secara global. Keberhasilan acara sebesar ini tentu tak lepas dari campur tangan Valens dan kru Citraweb yang jadi motor penggeraknya, memastikan Indonesia tetap jadi pusat gravitasi komunitas jaringan dan MikroTik dunia.

Bersama Citraweb, Valens juga mendorong pendidikan MikroTik gratis untuk para guru SMK di seluruh Indonesia. Bukan cuma di kota besar, pelatihan ini sudah merambah pelosok: dari ujung utara Sumatera, pedalaman Kalimantan, sampai Papua dan tanah Toraja. Tujuannya jelas: guru-guru makin siap membimbing generasi baru, supaya kesempatan belajar teknologi tidak lagi jadi hak istimewa kota besar saja.

Pengaturan IP Address, Privasi, dan Krisis di Panggung Strategis Nasional

Tak hanya bergerak di lapangan, Valens juga aktif di level industri nasional. Ia pernah menjadi pengurus pusat APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia)—organisasi strategis di dunia internet tanah air. Di APJII, ia dipercaya menjadi Ketua Bidang Internet Security (2005-2009)—mengawal keamanan siber di tengah pesatnya pertumbuhan infrastruktur digital Indonesia. Saat ini Valens juga sering beradu argumen langsung dengan pejabat Kominfo, dia memperjuangkan hak akses dan privasi publik, yang hendak dibatasi oleh pemerintah.

Bukan cuma itu, ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Bidang IDNIC (2009-2015), yang mengelola distribusi IP Address nasional, menjaga agar tulang punggung internet Indonesia tetap kuat dan berdaulat. Lewat peran ini, Valens ikut memastikan internet Indonesia tumbuh sehat, aman, dan tidak sekadar jadi pasar konsumtif. Era kepengurusannya adalah era banyak perusahaan yang mulai memiliki IP Address sendiri, hal yang jarang terjadi di negara lain.

Tak hanya itu, pada masa paling kritis di 2021, Valens dipercaya menjadi Ketua Steering Committee (SC) Munas APJII. Di tengah pandemi Covid-19, saat organisasi dihadapkan pada tantangan besar—keberlanjutan dan kesinambungan APJII dipertaruhkan, sementara semua serba terbatas, tidak bisa berkumpul, banyak ketidakpastian. Dengan leadership dan visi jangka panjang, Valens berhasil mengawal proses Munas agar tetap berjalan lancar, solid, dan demokratis—menjadi bukti nyata kemampuan krisis management dan komitmen menjaga keberlanjutan organisasi strategis di industri internet nasional. Saat itu APJII berhasil mengadakan pemilihan pengurus berbasis sistem digital, suatu hal yang tidak berani lagi dilakukan di beberapa Munas setelahnya.

Netfest 2025

Panitia Munas APJII 2021, after the show

Perannya di lingkungan komunitas teknis juga berlanjut di IGF, IndoWLI, IPv6, dan IDNOG. Saat acara Internet Governance Forum 2012 di Baku, Azerbaijan, Valens membawakan materi workshop tentang penggunaan teknologi di area bencana. Bahkan setelah Jepang dilanda tsunami, Valens diundang untuk berdialog dengan praktisi NGO di Jepang dan berkunjung ke area bencana di Jepang.

Mengubah Paradigma Keamanan dan Kesiapsiagaan Nasional

Valens bukan cuma penggerak di balik Citraweb, tapi juga motor inovasi di ranah pelatihan dan sertifikasi IT untuk institusi strategis negara. Bersama timnya, ia aktif membangun program pelatihan khusus untuk TNI AD, terutama Korps Perhubungan—menghasilkan lebih dari 500 teknisi bersertifikat yang kini jadi garda depan modernisasi dan keamanan jaringan militer Indonesia.

Netfest 2025

Pelatihan Jaringan Kelas Khusus Kopassus di Citraweb

Perjalanannya dimulai dari pelatihan jaringan untuk Kopassus pada 2008 di Jogja, dengan peserta hanya enam orang. Dari situ, Valens dan tim Citraweb ikut merancang serta mensupervisi jaringan digital komunikasi yang mendukung latihan gabungan TNI di Batam tahun 2008—memadukan alat intai militer dengan sistem data digital, sehingga pemantauan area latihan, bahkan antar-pulau, bisa dilakukan secara menyeluruh dan real-time. Di tengah hujan badai yang mengguyur Batam saat itu, matahari baru akan bersinar, ratusan prajurit TNI terjun dari pesawat, menyerang dan menguasai kembali Bandara Hang Nadim. Dan semua proses itu berhasil termonitor dengan baik di ruang komando penyerangan.

Lompatan berikutnya terjadi tahun 2016, saat Valens mulai berkoordinasi dengan Pusdikhub di Cimahi. Ia merancang sertifikasi guru-guru militer, menjadikan Pusdikhub sebagai Mikrotik Academy, dan membuka jalur pendidikan jaringan khusus untuk tamtama, bintara, hingga perwira. Beberapa kali Valens diundang hadir ke Pusdikhub untuk menjadi pembicara seminar, memberikan wawasan bagi peserta pendidikan mengenai perkembangan teknologi jaringan. Kini, materi MTCNA bahkan jadi standar wajib di Korps Perhubungan—menjadi fondasi literasi digital seluruh anggotanya. Ini bukan sekadar pelatihan, tapi revolusi kecil yang menyiapkan institusi negara untuk tantangan digital masa depan.

Kerjasama dengan TNI Angkatan Darat semakin erat, setelah pada tahun 2018, Kolonel Widjang Pranjoto menjadi Direktur Perhubungan TNI AD, dan menindaklanjuti kerja sama dengan Citraweb. Pelatihan untuk anggota TNI menjadi lebih banyak frekuensinya dan juga beragam topiknya. Sebagian diadakan di kantor Citraweb Yogyakarta, dan ada juga yang di Pusdikhub. Bahkan untuk lulusan MTCNA kelas TNI AD ini akan mendapatkan brevet tanda kemahirannya di bidang jaringan. Kerja sama ini terus berlanjut, meskipun Dirhubad sudah berkembang menjadi Pushubad. MoU antara Citraweb dengan Pushubad diperbaharui di kepemimpinan Mayjen TNI Nurcahyo Utomo dan Mayjen TNI Iroth Sonny Edhie.

Program sejenis juga digelar untuk Basarnas, memperkuat kesiapan digital tim penyelamat nasional agar sigap di era bencana yang serba digital.

Menyalakan Akses di Tengah Bencana

Tahun 2004, ketika dunia masih sibuk berdebat tentang broadband, Valens sudah berada di medan nyata: Aceh, lima hari setelah tsunami menggulung segalanya. Ia datang bukan sebagai penonton, apalagi pemburu sensasi, melainkan sebagai pejuang teknologi yang menyalakan kembali denyut komunikasi di tanah yang porak-poranda. Bersama tim relawan Airputih, Valens menembus keterbatasan transportasi, menumpang pesawat Hercules milik pemerintah Australia dengan membawa seperangkat VSAT dari PSN, beberapa Routerboard RB230 hibah dari MikroTik, dan laptop seadanya.

Netfest 2025

Foto yang dimuat harian Kompas 16 Januari 2025

Misi awal ini didukung oleh APJII, yang sadar betul bahwa tanpa komunikasi, harapan akan cepat padam. Akses pertama berhasil dihidupkan di warnet Tabina—ikon kecil yang menjadi titik balik besar. Dari sana, Valens dan tim membangun point-to-point link ke kantor Dinas Gubernur, lalu menyebarkan akses wifi gratis di bawah tenda pengungsian. Jaringan ini dipakai oleh wartawan lokal maupun internasional untuk mengirim berita, foto, dan video. Dunia akhirnya melihat wajah asli tragedi Aceh, dan arus bantuan mulai mengalir deras.

Tak berhenti di situ, beberapa perusahaan besar ikut mendukung perjuangan ini. Intel menyumbangkan infrastruktur wireless 5G (pre-WiMAX) yang kala itu masih terbilang futuristik, memperluas jangkauan akses. HP mengirimkan puluhan laptop, yang kemudian disulap menjadi “warnet darurat” di lapangan. Dengan semua itu, Aceh tidak hanya bertahan, tetapi kembali bersuara. Sementara orang-orang baru menyaksikan berita di televisi, Valens sudah berjibaku dengan lumpur dan reruntuhan, memastikan sinyal hidup—karena di situ, nyawa dan harapan dipertaruhkan.

Aksi heroik itu bukan sekadar satu bab singkat. Tahun 2006, gempa 5,9 SR meluluhlantakkan kota Jogja dan sekitarnya. Dalam hitungan menit, ribuan rumah rata dengan tanah, korban berjatuhan, dan kekacauan menyelimuti seluruh wilayah. Kali ini, Valens menyiapkan tim pendataan yang beranggotakan Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan. Mereka disebar ke setiap kabupaten hingga Boyolali dan Kartosuro, membawa misi: menghimpun data kerusakan secepat mungkin, lalu langsung “mendorongnya” ke pusat. Kecepatan informasi menjadi senjata utama—karena tanpa data yang akurat, bantuan hanya akan tersendat.

Empat tahun kemudian, tahun 2010, Yogyakarta kembali berduka—kali ini oleh erupsi Gunung Merapi. Kota Jogja diselimuti abu, dan lereng Merapi terancam oleh wedhus gembel, awan panas yang mematikan. Saat hoaks mulai merebak dan kebingungan meluas, Valens bergerak bersama APJII, Postel, RRI, dan PRSSNI. Mereka mendirikan sebuah stasiun radio darurat khusus bencana, yang mengudara di frekuensi FM, diberi nama Radio Tanggap Merapi. Didukung relawan JRK (Jaringan Radio Komunitas) sebagai penyiar, radio ini menjadi sumber informasi terpercaya di tengah kepanikan. Selama satu bulan penuh, saat masa paling kritis, Radio Tanggap Merapi menyalakan harapan—mengabarkan fakta, melawan hoaks, dan ikut menghibur para pengungsi di barak pengungsian.

Di Bengkulu tahun 2007, misinya lebih spesifik: melakukan pendataan kerusakan pasca-gempa, karena data resmi kala itu dianggap tidak akurat oleh Presiden SBY. Dengan berani, Valens ikut terjun bersama tim elite Kopassus. Mereka terbang menggunakan Hercules, membawa serta sebuah mobil CR-V bantuan dari Honda Prospek Motor—yang sebelumnya disumbangkan saat tsunami Aceh. CR-V itu dipenuhi peralatan pendataan, dan setibanya di Bengkulu langsung digunakan untuk menembus desa-desa yang belum tersentuh bantuan. Bukan sekadar IT guy, Valens tampil sebagai engineer lapangan yang tak gentar menghadapi debu, panas, dan risiko di medan bencana.

Dari Aceh, Bengkulu, hingga Yogyakarta, semua pengalaman itu meneguhkan satu keyakinan: teknologi bukan hanya soal kecepatan dan efisiensi, melainkan tentang keberanian untuk hadir di saat paling kritis.

Kiprah Memburu Pelaku Kejahatan Digital

Pada era 2004, Valens bukan hanya penonton dalam sejarah awal keamanan siber Indonesia—ia langsung turun ke gelanggang, menghadapi kejahatan digital yang saat itu masih jadi “barang asing” bagi kebanyakan orang. Salah satu kasus monumental yang ia tangani adalah peretasan website KPU. Saat itu, Valens membantu tim Polda Metro di bawah komando Petrus Golose, mulai dari proses penyelidikan hingga memeriksa barang bukti dan saksi kunci. Ini bukan sekadar aksi teknis; ia berada di garis depan, di tengah tekanan dan eksposur nasional.

Tak berhenti di situ, Valens juga pernah diminta membantu Polda Bali dalam kasus pedofilia besar yang melibatkan pelaku berkebangsaan asing dan belasan anak-anak sebagai korban di sebuah desa. Bersama tim di bawah komando Purnomo, Valens berperan vital dalam rekonstruksi data: mengembalikan file-file di harddisk yang sudah dihapus dan melakukan analisa teknis terhadap bukti foto yang ditemukan. Hasil pekerjaannya membuka tabir kejahatan yang nyaris luput dari penegakan hukum.

Tahun 2013, Valens kembali bergerak saat kasus pedofilia di Surabaya yang melibatkan korban anak SD hampir saja berhenti di meja birokrasi. Bersama tim ICT Watch dan APJII, Valens mendesak kasus ini naik ke Bareskrim Polri. Tantangannya: komunikasi pelaku dan korban berlangsung lewat Facebook chat, nyaris tanpa jejak digital yang bisa ditelusuri. Namun, Valens tidak menyerah. Dengan strategi jebakan digital melalui website lain, ia berhasil mengungkap identitas pelaku lewat IP address yang akhirnya menjadi kunci bagi Mabes Polri untuk menangkap pelaku hanya dalam hitungan hari.

Tidak heran jika Valens beberapa kali diundang sebagai dosen tamu di Pusdik Reserse POLRI di Mega Mendung. Di sana, ia berbagi wawasan dengan calon reserse tentang dunia cyber dan bagaimana kejahatan digital menuntut cara berpikir yang tak lagi konvensional.

Valens membuktikan, di dunia yang terus berubah, integritas, keahlian, dan keberanian untuk melangkah ke wilayah baru adalah kunci agar bangsa ini tidak hanya jadi korban, tapi juga mampu membalik keadaan menjadi pelindung dan pionir di dunia siber.

Ketika Seni dan Teknologi Berpelukan di Saat Pandemi

Saat pandemi Covid-19 melanda, seluruh panggung kebudayaan seakan redup. Pemerintah mengharuskan kita menjaga jarak, menghindari keramaian—semua terasa sunyi dan membeku. Namun, justru di tengah krisis ini, secercah harapan lahir dari sebuah kantor baru di Jalan Magelang, Yogyakarta: markas Citraweb.

Tahun 2020, Citraweb baru saja pindah ke rumah barunya. Sebuah gedung dengan studio broadcasting modern, ruang-ruang terbuka yang luas, dan akses internet super ngebut dari Citranet. Tapi yang paling berharga di sana adalah spirit kolaborasi. Valens dan Debyo Surya tidak tinggal diam. Bersama, mereka mengulurkan tangan pada komunitas seni dan budaya di Yogyakarta, membuka pintu selebar-lebarnya untuk semua yang ingin tetap berkarya—walau dunia sedang berhenti bergerak.

Studio dan lorong-lorong Citraweb mendadak jadi denyut baru bagi para seniman. Festival Kebudayaan Yogyakarta, Pesta Boneka, Gulali Festival, Sumonar, Perayaan Harlah NU, Talkshow Unesco, pentas Shaggydog, teater Mas Butet, Sirkus Barrock, Teater Garasi, Keroncong Plesiran, Jazz Gunung, dan sederet agenda lain, semua lahir ulang secara virtual. Kreativitas tak lagi terbatasi tembok dan jarak—teknologi menjadi jembatan agar karya-karya itu bisa melintasi ruang dan sampai ke hati siapa saja, di mana saja.

Berbulan-bulan kantor Citraweb tak pernah benar-benar sunyi. Di sana, keringat, tawa, dan semangat pekerja seni berbaur dengan klik kamera dan deru internet. Pandemi memaksa semua berubah, tapi Valens percaya: inilah momentum berharga. Kolaborasi antara teknologi dan kebudayaan, yang awalnya lahir karena keterpaksaan, justru menjadi lompatan besar menuju masa depan. Dua dunia yang tadinya berjalan sendiri, kini saling menguatkan, siap menghadapi zaman yang serba tak pasti.

Merangkai Komunitas Sebelum Era Medsos

Valens Riyadi juga memiliki jejak kuat dalam ekosistem kreatif Indonesia—terutama lewat Fotografer.net (FN), komunitas fotografi daring terbesar di Asia Tenggara pada masanya. Mulai online pada 30 Desember 2003, jauh sebelum era Facebook, WhatsApp, dan media sosial modern lainnya, FN hadir sebagai ruang digital yang mempertemukan para pecinta fotografi dari berbagai penjuru negeri. Di tengah keterbatasan infrastruktur internet kala itu, Valens merintis dan menyediakan dukungan teknis utama agar platform ini bisa diakses luas dan tetap stabil.

FN telah menjadi saksi perjalanan panjang perkembangan teknologi fotografi—dari era kamera analog hingga dominasi kamera digital. Pada masa-masa awal, hampir semua karya yang diunggah berasal dari foto cetak hasil jepretan kamera analog berfilm, yang kemudian dipindai. Beberapa tahun kemudian, arus berbalik: mayoritas karya lahir langsung dari kamera digital. Perkembangan terus berlanjut, hingga karya-karya hasil bidikan smartphone mulai memenuhi galeri.

Sebagai co-founder, Valens bertanggung jawab membangun dan mengelola infrastruktur digital FN. Ia memastikan sistemnya tahan banting dan efisien, mampu melayani lonjakan trafik dari ribuan pengguna aktif harian—bahkan ketika koleksi foto komunitas telah melampaui 1 juta unggahan. Ia bekerja erat dengan Remigius Budhi Isworo, yang mengambil peran besar dalam pengelolaan perusahaan serta menulis ulang sistem kode FN untuk meningkatkan performa dan skalabilitas. Bersama mereka, FN menjadi platform lokal dengan standar teknis setara global.

Kontribusi besar juga datang dari Kristupa W. Saragih—pendiri utama FN—yang memberikan arah visi dan identitas komunitas ini. Kristupa membangun budaya diskusi yang sehat dan terbuka, menghidupkan forum dengan tulisan-tulisan tajam dan inspiratif, serta mendorong terbentuknya kultur saling belajar. FN pun menjelma menjadi rumah besar bagi ribuan fotografer dari berbagai kalangan—mulai dari pemula yang baru belajar komposisi, hingga fotografer profesional berkaliber nasional dan internasional.

Komunitas ini begitu kaya dan beragam. Setiap hari, ribuan foto diunggah dan didiskusikan, mencakup berbagai genre—mulai dari model, landscape, makro, jurnalistik, hingga human interest. Para anggota aktif bukan hanya memamerkan karya, tapi juga saling memberikan kritik dan saran yang membangun. FN tidak sekadar jadi galeri daring, tapi sekolah terbuka tempat fotografer belajar langsung dari pengalaman dan perspektif sesama anggota. Banyak fotografer profesional Indonesia saat ini memulai kariernya dari ruang-ruang diskusi FN, mengasah kemampuan lewat feedback komunitas, dan tumbuh bersama generasi visual digital pertama.

Kini, meskipun zaman telah berubah dan media sosial mengambil alih peran interaksi daring, warisan FN tetap hidup di ingatan banyak fotografer Indonesia. FN adalah tonggak penting dalam sejarah fotografi digital Indonesia—sebuah ruang yang menyatukan teknologi, komunitas, dan semangat belajar bersama. Dan Valens Riyadi—bersama Kristupa dan Remigius—adalah tiga serangkai di balik gerakan itu: menggabungkan infrastruktur, visi, dan eksekusi untuk menciptakan rumah digital yang membentuk ribuan kisah dan karier visual. Secara berkala, orang-orang yang pernah terlibat di FN masih sering berjumpa dan saling bertukar cerita.

Filosofi Hidup

Bagi Valens, teknologi hanya berarti jika dipakai untuk memperkuat manusia. Lewat Citraweb dan Citranet, ia membangun infrastruktur dan SDM digital Indonesia. Lewat pelatihan, komunitas, dan aksi nyata di lapangan, ia mentransformasi ribuan orang menjadi penggerak perubahan.

Kisah ini jadi pengingat bahwa keberanian dan empati itu pondasi utama perubahan. Dengan segudang pengalaman—dari mendirikan Citraweb, memimpin ratusan pelatihan, sampai terjun di medan bencana—Valens membuktikan bahwa leadership sejati diuji di titik-titik paling rawan. Dia bukan sekadar CEO atau engineer—dia adalah pemimpin yang rela kotor, turun ke bawah, dan menyalakan kembali harapan, satu jaringan, satu desa, satu keluarga dalam tiap krisis.

Maka jangan heran kalau setiap project, pelatihan, atau inovasi yang ia dorong selalu ada pesan yang sama: Teknologi hanya berarti jika digunakan untuk kemanusiaan. Masa depan tidak cuma diketik di atas keyboard—tapi diciptakan lewat aksi, empati, dan keberanian menghadapi krisis.

Valens Riyadi bukan hanya founder, trainer, atau pionir—tetapi arsitek masa depan digital Indonesia, penghubung manusia dengan teknologi, dan inspirator lintas generasi. Ia membuktikan, masa depan bukan untuk ditunggu, tapi dirancang dan diwujudkan lewat inovasi, kolaborasi, dan dedikasi.