Valens Riyadi
Halaman Muka | Tentang Saya | Galeri Foto | Catatan | Buku Tamu | Kontak
My Blog

Dengan blog ini saya mencatat banyak hal. Mulai dari hal yang sederhana hingga yang rumit dan bikin sedih. Dunia ini memang tidak mungkin bisa menyenangkan semuanya. Tak apa, karena senang dan sedih yang silih berganti itulah dunia ini terus berputar dan berputar....

Kalimat ini adalah isian default. Anda bisa menggantinya dengan isian yang sesuai dengan keinginan Anda. Loginlah di halaman konfigurasi untuk mengedit teks ini.


Bermain dengan Ciri-Ciri Internet
30 Agustus 2005 06:10:09 wib
Oleh Valens Riyadi, pelaku IT

Berbicara tentang internet marketing memang sangat menarik. Sebagian orang menyebutnya sebagai cara baru dalam menjual, karena menggunakan media yang baru juga: internet. Di Indonesia sendiri penggunaan internet baru marak sekitar 10 tahun yang lalu, saat beberapa jasa Internet Service Provider mulai berdiri.

Berawal dari menggunakan internet hanya untuk komunikasi, kini internet merupakan salah satu tools dalam berjalannya roda bisnis. Untuk sebagian perusahaan, internet adalah tools untuk berkomunikasi, baik secara internal maupun eksternal (dengan pembeli).

Namun, ada beberapa bisnis baru yang bukan lagi menggunakan internet sebagai tools, namun justru hidup dari internet itu sendiri. Perusahaan-perusahaan ini bisa dikatakan hidup oleh, dari, dan untuk internet. Sehingga kita kemudian mengenal yang namanya bisnis dotcom, yang hampir di semua belahan dunia sempat booming, termasuk di Indonesia.

Untuk perusahaan yang menggunakan internet hanya sebagai tools, saya kurang suka menggolongkannya ke dalam bisnis dotcom ini. Biasanya mereka core business-nya tidak berkaitan dengan internet. Alih-alih punya website yang bagus, kadang mereka hanya menggunakan email sebagai media komunikasi saja.

Perusahaan-perusahaan yang tergolong dalam bisnis dotcom ini adalah contoh yang sangat menarik untuk kita bahas, dalam kaitannya dengan internet marketing. Dan dari 10 tahun terakhir ini, untuk bisnis dotcom di Indonesia, saya melihat hanya ada satu perusahaan yang sangat menonjol, yaitu Detikcom.

Lahir di tahun 1998, saya mengamati bahwa Detikcom benar-benar adalah bisnis yang bernapaskan internet. Ini membuat detikcom menjadi sangat unggul. Detikcom dilahirkan memang sebagai portal internet, bukan sekadar tools untuk mendukung jenis usaha lainnya. Content yang ada di detikcom adalah berita yang ditujukan untuk konsumsi pengguna internet yang menuntut kecepatan dengan format berita yang singkat.

Kelahiran Detikcom tidak diiringi dengan segala kemewahan khas dotcom lainnya. Kredibilitasnya sebagai media tidak dikejar dengan kantor yang mewah, saham yang mahal, ataupun launching di hotel berbintang. Kredibilitasnya dikejar dengan berita-beritanya yang tajam dan cepat.

Berbicara tentang bisnis dotocom, sering kali kita terjebak juga pada penggunaan teknologi yang canggih. Seolah tanpa teknologi terkini, sebuah perusahaan tidak layak dicap sebagai perusahaan dotcom. Sebagian perusahaan dotcom membesar-besarkan kecanggihan teknologinya sebagai bagian dari promosinya.

Misalnya kita berbicara tentang pembuatan berita yang real time, kita akan berpikir soal perangkat laptop yang terkoneksi ke satelit. Untungnya, Detikcom tidak terpancing pada hal-hal seperti ini. Ada teknologi yang jauh lebih sederhana dan murah, yaitu ponsel. Pemilihan teknologi yang “tepat guna” seperti ini sangat menghemat cost, sehingga perusahaan yang baru berdiri tidak perlu bleeding.

Tepat-teknologi ini juga digunakan detikcom pada awal berdirinya. Sebagai orang yang cukup mengerti web programming, kadang saya mengeluh melihat beberapa hal di detikcom yang dikerjakan dengan “terlalu sederhana” atau juga saat search engine-nya ngadat dan tidak bekerja baik. Belakangan saya bisa memahami bahwa hal-hal itu bisa terjadi akibat digunakannya teknologi yang pas dengan ukuran perusahaannya saat itu.

Pilihan yang tepat. Jika sejak berdiri, Detikcom memaksakan diri menggunakan server-server canggih seperti yang digunakan oleh Yahoo, saya jamin saat ini Detikcom sudah tutup. Pasti! Cost-nya akan terlalu mahal, tidak sesuai dengan ukuran income-nya saat itu. Tampil dengan penuh kesederhaan bisa jadi adalah satu kunci sukses Detikcom, selain kecepatan, dan kredibilitas berita yang dimilikinya.

Bandingkan dengan kisah berdirinya sebuah portal di Indonesia yang terjadi di tahun 2000-an berikut ini. Mereka beriklan di sebuah koran nasional satu halaman penuh full color. Iklan itu seakan ingin mengesankan bahwa portal itu super power dan kuat. Pemilik portal itu seperti berkhayal bahwa dengan cara itu ia dapat menyedot massa untuk menggunakan fasilitas yang dimilikinya. Namun, apa yang terjadi kemudian? Tidak lama kemudian mereka gulung tikar. Dan Detikcom.com tetap tegar hingga kini.

Selain Detikcom, ada juga situs lain yang perlu saya ulas, yaitu Kompas Cyber Media (KCM) dan Bhinneka.com.

KCM adalah pengembangan dari versi online Kompas Cetak. KCM ingin keluar dari situ dengan menghasilkan berita sendiri serta menjual space iklan sendiri. Namun begitu, persepsi pembaca masih belum bisa beranjak. KCM masih ditempatkan sebagai situs penyedia arsip berita Kompas Cetak, di mana kita bisa mencari berita yang sudah lewat, yang sulit kita cari lagi versi cetaknya.

Meski begitu, Kompas masih tampil “nanggung”. Internet seharusnya memiliki space yang lebih tidak terbatas daripada media cetak. Media cetak dibatasi dengan ukuran dan jumlah halaman setiap terbitnya, sedangkan media online tidak. Namun, KCM tampil lebih irit ketimbang media cetaknya. Kita tidak bisa mendapatkan foto-foto yang seharusnya menyertai suatu berita. Akibatnya, saat membaca Kompas Online kita sering kali terasa janggal, saat melihat berita yang merujuk ke foto, atau diagram, namun tidak tersedia di versi onlinenya.

Bhinneka.com bisa dibilang tampil cukup cantik sebagai bisnis dotcom. Sampai saat ini, bisa dibilang Bhinneka.com ini adalah market leader untuk toko komputer online di Indonesia. Kalau mau mencari pernik-pernik komputer, saya akan cek di Bhinneka.com.

Kendalanya, bisnis komputer retail di Indonesia ini khan bisnis dengan margin yang tipis. Kadang kala, membeli di bhinneka.com plus ongkos kirimnya akan menjadi lebih mahal ketimbang membeli di toko komputer lokal secara biasa.

Namun, ada kelebihan yang ditawarkan Bhinneka.com sebagai toko online. Dengan aplikasi shopping chart-nya, pengunjung mendapat kemudahan untuk mencari barang dan membandingkan harga dan spesifikasi. Kedua hal ini sangat sulit dilakukan, dan kadang sangat melelahkan kalau kita melakukannya di toko komputer konvensional. Bisa-bisa kita malah dicap sebagai pembeli yang cerewet dan merepotkan.

Dengan aplikasi toko online ini, pengunjung akan mudah untuk mencari suatu barang yang dibutuhkannya. Langsung pula tahu harga dan spesifikasinya. Tidak suka, tinggal cari yang barang lain lagi. Berkali-kali pun tidak apa-apa.

Selain itu, dengan sistem toko onlinenya, semua pembelian kita tercatat rapi di database. Ini memungkinkan proses pengepakan, pengiriman, hingga garansi bisa berjalan dengan mulus. Saya pernah membeli barang dari bhinneka.com dan terkagum-kagum dengan sistem labelling mereka yang sudah se-advance dan serapi amazon.com. Bahkan label yang diperuntukkan jika kita mengklaim barang kalau rusak pun sudah disertakan oleh mereka pada saat pengiriman barang.

Dari contoh-contoh di atas, ada beberapa hal yang bisa digarisbawahi. Pertama, bisnis dotcom harus dapat memanfaatkan keunggulan teknologi secara tepat. “Tepat” tidak sama dengan canggih dan mahal, yang jika dipaksakan malah menyebabkan bleeding dan perusahaan cepat ambruk.

Kedua, pemasar harus paham betul bahwa internet memiliki ciri khas, yakni tidak mengenal batas wilayah, layanan 24 jam sehari 7 hari seminggu, storage yang tidak terbatas, serta akses ke database yang realtime dan secure.

Oleh karena itu, kesuksesan para pemasar dalam menjalankan bisnis dotcom bergantung pada kejelian dalam mencari celah dan bermain dengan ciri-ciri internet ini. Jangan hanya sekadar pakai email, terus mengklaim diri sebagai bisnis dotcom, sementara catatan-catatan finansial, proses pemesanan, masih pakai notebook cap kera (buku tulis biasa).

Soal database contohnya, kemampuan programming web untuk bisa akses ke database sangat dianjurkan. Lihat contoh Bhinneka.com. Permainan database ini membuat pengunjung dimudahkan dalam mencari barang yang diinginkan dengan cepat.

Satu lagi yang tak kalah penting: tampil secukupnya dan tidak glamour. Perhatikan content, lebih dari sekadar packaging. Bisnis dotcom memang menggiurkan. Tampak luarnya. Karenanya, banyak yang terkecoh dan tergesa-gesa seolah menemukan tambang emas. Semua orang berlomba. Semua berusaha tampil hebat. Konsentrasi lebih ke arah tampilan kulit luar.

Padahal, secara hukum bisnis, bisnis dotcom sama dengan bisnis biasa juga. Ada hitungan cost-income. Semuanya harus seimbang. Jangan sampai kita menyusul perusahaan-perusahaan dotcom glamour yang sekarang sudah almarhum.

Penulis adalah pekerja IT pada sebuah ISP di Yogyakarta, anggota dewan pengurus Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia, dan administrator situs fotografi Fotografer.net. Penulis bisa dihubungi di email [email protected]

WiFI, akankah Tergantikan WiMAX?
30 Agustus 2005 06:07:51 wib
Kota Yogyakarta, Bandung, Semarang, dan Surabaya dalam beberapa tahun belakangan ini dikenal banyak memiliki warung internet di seluruh penjuru kotanya. Seiring dengan pertumbuhan jumlah warnet di kota-kota tersebut, bertumbuhan pula tower-tower. Di setiap ujungnya, bertengger sebuah alat dengan antena mirip parabola berukuran kecil.

Perangkat itulah yang kita kenal dengan istilah wireless LAN, atau WiFi (Wireless Fidelity), yaitu perangkat yang memungkinkan kita dapat mendistribusikan akses internet ke lokasi lain tanpa perlu memasang kabel. Warnet berlangganan akses internetnya dari ISP (perusahaan penyelenggara jaringan internet). Dengan WiFi inilah akses internet didistribusikan ke warnet dan juga ke palanggan lainnya.

Untuk menyalurkan akses internet ini sebenarnya kita tidak harus menggunakan WiFi. Ada berbagai teknologi lain yang bisa digunakan. Teknologi yang cukup terjamin kestabilannya adalah menggunakan kabel, baik itu DSL (digital subscriber line), serat optik maupun kabel TV. Serat optik dapat memiliki kapasitas data cukup besar, seperti yang digunakan pada kabel serat optik bawah laut SEA-ME-WE3 yang terbentang dari Asia hingga Eropa dan melawati 33 negara, berkapasitas awal 20 Gbps (giga bit per detik).

Kabel TV sebagai media internet juga sudah digunakan di Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta. Trafik internet dilewatkan kabel TV, bersama-sama dengan siaran TV. Sedangkan DSL menggunakan kabel telepon biasa.

Akses internet menggunakan kabel secara teori jauh lebih stabil ketimbang menggunakan WiFi. WiFi sendiri sebetulnya dirancang untuk penggunaan di dalam ruangan indoor, seperti kita lihat di mall-mall atau di café-café, ada areal-areal yang tertera tulisan hotspot. Kalau kita membawa laptop atau PDA yang memiliki fitur WiFi ini, kita bisa berinternet ria di areal tersebut.

Lalu, kok di kota-kota yang banyak warnetnya itu, masih banyak juga yang menggunakan WiFi di luar ruangan (outdoor)? Di satu sisi, ini sebenarnya bukti bahwa masyarakat Indonesia itu kreatif. Perangkat yang harusnya bekerja di dalam ruangan (indoor), disulap sedemikian rupa, dimasukkan kotak yang tahan air, dipasangi antenna tambahan sehingga jangkauannya lebih jauh.

Tapi, jangan bangga dulu, karena ini salah satu bukti bahwa infrastruktur kabel di negara kita ini sangat buruk. Berbagai jenis kabel di atas itu, hanya tersedia di kota-kota besar di Jawa saja. Itupun tidak menjangkau ke seluruh kota.

Akhirnya, WiFi menjadi alternatif satu-satunya di banyak daerah, termasuk juga di kota-kota besar, seiring juga banyaknya tumbuh ISP-ISP kecil atau yang lebih kecil lagi yang sering disebut RT/RW-net.

***

WiFi ini adalah teknologi akses internet yang tidak menggunakan kabel. Bekerjanya di frekuensi 2,4 GHz, sesuai dengan standart IEEE 80211.b/g, yang seharusnya memiliki kecepatan hingga 108 Mbps (Mega Bit per detik)..

Misalnya kita punya 2 lokasi di suatu daerah, dan kita mau menghubungkan jaringan yang ada di lokasi pertama ke lokasi kedua, kita bisa menggunakan perangkat WiFi ini. Kemudahan inilah yang membuat WiFi banyak digunakan di Indonesia.

Pada saat tim relawan Airputih masuk ke daerah bencana di Aceh, jaringan dengan WiFi inilah yang menjadi andalan untuk melakukan distribusi akses internet, mengingat infrastruktur lainnya seperti kabel telepon sebagian besar tidak dapat digunakan. Setelah menghidupkan sebuah ISP lokal, tim Airputih menarik link WiFi ke areal Pendopo Gubernuran Aceh, tempat banyak sekali wartawan dan tim relawan bermarkas. Alhasil, hampir seluruh areal Pendopo saat itu menjadi “hotspot ready”.

Maraknya penggunaan WiFi ini juga disebabkan harga jual di pasaran sudah cukup murah. Di toko-toko komputer gampang kita temui perangkat WiFi ini, dengan berbagai merk dan tipe. Yang paling murah sudah bisa didapatkan dengan harga sekitar 1 juta rupiah.

WiFi awalnya digunakan untuk jarak yang terbatas, sekitar 1 sampai 3 km, sebagai media distribusi layanan dari ISP ke pelanggan (last mile). Seiring dengan berkembangnya bisnis dan layanan, WiFi kemudian digunakan juga sebagai infrastruktur, dari ISP ke repeater atau base station. Dari pengamatan di lapangan, beberapa link WiFi sudah mencapai jarak beberapa puluh kilometer.

Seperti yang digunakan di kota Yogyakarta, beberapa ISP memanfaatkan WiFi untuk media distribusi akses internet ke beberapa kota sekitar Yogyakarta, misalnya ke Klaten, Muntilan, hingga ke Purworejo. Dari Semarang, jaringan WiFinya sudah melebar hingga Salatiga. Bahkan, dari kota Surabaya ke Malang pun sudah pernah diimplementasikan jalur internet menggunakan WiFi.

***

Meskipun secara spesifikasi WiFi sanggup bekerja hingga 108 Mbps, namun kenyataan di lapangan sangatlah berbeda. Untuk penggunaan outdoor berjarak 5 km dan melayani 20 pelanggan, biasanya perangkat WiFi ini hanya mampu bekerja dengan bandwidth maksimal 1 hingga 2 mbps.

Makin banyak pengguna yang terhubung ke access point, kemampuan perangkat WiFi semakin menurun. Hal ini disebabkan perangkat WiFi dapat berkomunikasi hanya dengan satu perangkat lainnya dalam satu waktu yang bersamaan. Perangkat lainnya harus mengantri, sehingga semakin banyak pengguna, antrian akan semakin panjang, dan mengakibatkan turunnya kemampuan.

WiFi juga terkadang sulit diimplementasikan karena WiFi menuntut kondisi line of sight, artinya, di antara perangkat yang berada di base station dan di tempat pelanggan tidak boleh ada halangan. Karena itu, untuk penggunaan WiFi secara oudoor, sering kali dibutuhkan adanya tower yang cukup tinggi. Banyaknya pengguna WiFi di suatu area tertentu juga bisa menyebabkan inteferensi, karena kanal gelombang yang digunakan bersamaan dan timpang tindih.

Selain menggunakan frekuensi 2,4 GHz, saat ini juga tersedia perangkat-perangkat wireless yang bekerja di frekuensi lainnya, antara lain 3,3 GHz, 5,2 GHz, dan 5,8 GHz. Perangkat-perangkat ini sering disebut Broadband Wireless Access (BWA), memiliki lebar pita dan kestabilan yang lebih baik dari pada WiFi.

Salah satu penggunaan BWA yang cukup masif adalah rekonstruksi infratruktur data di kota Banda Aceh. Tim relawan Airputih memasang perangkat Alvarion Breeze Access VL, yang mencakup 3 buah base station dan 35 CPE (Client Premises Equipment), yang seluruhnya merupakan hibah dari Intel Corp. Setelah pemasangan dan dilakukan uji coba, lebar pita antar base station bisa mencapai 13 Mbps, sedangkan dari base station ke CPE bisa mencapai 4 Mbps.

***

Mulai tahun lalu, kita mulai dikenalkan dengan teknologi nirkabel baru, yang sering disebut dengan WiMAX (Worldwide Interoperability for Microwave Access). Serupa dengan WiFi, perangkat WiMAX didesain untuk penggunaan last mile, sebagai alternatif pengganti DSL ataupun internet via kabel TV.

Keunggulan yang cukup signifikan dibandingkan dengan WiFi, WiMAX tidak membutuhkan kondisi yang line of sight (tidak terhalang) sehingga dalam implementasinya lebih mudah dan tidak dibutuhkan tower yang tinggi di tempat pelanggan. Diperkirakan, WiMAX dapat memiliki bandwidth hingga 40 Mbps dan melayani daerah dengan radius 3 sampai 10 kilometer.

WiMAX bekerja dalam berbagai frekuensi, berbeda-beda tergantung produsen dan standart yang digunakan di suatu negara. Indonesia sendiri memilih untuk menggunakan WiMAX pada frekuensi 2,5 GHz, yang sebelumnya digunakan oleh TV satelit Indovision.

Melihat kondisi Indonesia yang miskin infrastruktur kabel, WiMAX dipercaya akan menjadi salah satu alternatif solusi yang banyak digunakan di Indonesia. Mengacu pada standart yang digunakan (IEEE 80216), WiMAX memang memiliki kualitas lebih baik dan lebar pita lebih lebar jika dibandingkan dengan WiFi.

Pada tahun-tahun pertama, diperkirakan bahwa penggunaan WiMAX baru sebatas untuk infrastruktur, misalnya dari ISP ke base station. Sementara pelanggan-pelanggan kecil dan rumahan akan masih kesulitan untuk mengadakan perangkat ini karena harganya belum semurah perangkat WiFi.

Tidak semua ISP di Indonesia akan menggunakan WiMAX ini, mengingat frekuensi yang digunakan bukanlah frekuensi bebas dan diperlukan pengurusan ijin frekuensi. Hanya beberapa ISP besar yang akan mendominasi penggunaan WiMAX di Indonesia.

Pada tahap berikutnya, setelah penggunaan WiMAX cukup banyak, harga jual bisa lebih rendah. Pada era ini barulah WiMAX akan digunakan sebagai media last mile.

Sedangkan, untuk penggunaan indoor, WiFi masih akan memagang peranan, karena perangkat-perangkat yang ada sekarang di berbagai alat, seperti laptop, smartphone, maupun PDA, sudah menggunakan WiFi. Dan untuk penggunaan indoor seperti ini, WiFi memang sudah dirasakan cukup dan stabil.

Dimuat di Majalah Komputer Aktif Agustus 2005
Valens Riyadi

Halaman Muka | Tentang Saya | Galeri Foto | Catatan | Buku Tamu | Kontak
Copyright ©2002-2004 Fotografer.Net